Pacquiao dan Kemurtadan Politik
Penulis adalah satu dari sekian penikmat tinju yang tak
percaya begitu saja atas janji gombal Emmanuel Dapidran “Pacman” Pacquiao yang
memutuskan gantung sarung tinju. Keputusannya untuk konsentrasi pada pemilihan
senat di Filipina mudah diduga sebagai batu loncat: ia mungkin pergi, tapi pasti kembali.
Dan adegan paling dibenci dari sebuah sinetron heroik adalah bahwa sang
pahlawan yang memutuskan pergi dengan hormat, memutuskan kembali. Ini picisan.
Dan gombal. Dan kita tahu itu ketika ia kembali ke dalam ring melawan Jessie Vargas--dan memenangkannya dengan mutlak. Lalu ia kembali lagi. Kali ini melawan Jeff Horn--petinju antah berantah Australia. Penulis tak tahu darimana ide gila Arum memasangkan Pacman dengan Horn yang dari perhitungan mana pun tak akan bisa mendongkrak penjualan.
Kemampuan Pacman menurun amat jauh, mungkin lantaran merasa
sudah mencapai segalanya. Gairah tinjunya tampak menurun jauh dibanding periode
emasnya pada 2005-2010. Dua pertandingan terakhir melawan rival abadinya, Juan
Manuel marquez, membuktikan persiapannya tak matang. Ia banyak diberitakan
sibuk melayani wawancara dan syuting iklan di sana sini. Ketika Marquez
berdarah-darah dalam kamp pelatihan, Pacman hura-hura dan menggelar pesta
dengan keluarga dan teman-temannya. Megaduel dengan Mayweather pun sebelas-dua
belas. Ini hanya pertandingan yang diatur demi uang. Tak ada lagi adu kuat dan
teknik, seperti kita tonton dalam malam mengecewakan itu.
Pertarungannya dengan Vargas: lumayan, tapi tak terlalu baik. Refleksnya menurun. Tapi masih patut dipuji.
Itu sebabnya, sebagai penonton tinju yang budiman, Pacman masih boleh ditonton, paling tidak untuk menyaksikan bagaimana sejarah ia lukis sampai kini. Tak peduli lawannya kondang, atau dari antah berantah :).

Comments
Post a Comment