Roman Gonzalez vs Sor Rungvisai: Ambruknya Raja P4P
Tak terlalu mengagetkan sebetulnya melihat bahwa raja pound per pound Roman “Chocolatitto” Gonzalez kalah. Pada
pertandingan terakhirnya tahun lampau melawan Carlos Cuadras, tanda-tanda
kerentanan tubuh Gonzalez melawan petinju dengan tubuh alami yang lebih besar
darinya, sudah amat kelihatan. Baru pertama kalinya Gonzalez kali itu datang ke
sesi tanya jawab pasca pertandingan dengan wajah amat lebam, sementara Cuadras,
meski kalah, masih tampak bersih dari kerusakan otot wajah.
Jadi, saat Rungvisai meengeksploitasi tubuh kecil Gonzalez
dengan pukulan langsung ke arah kepala dan rusuk, ditambah dengan tiga kali
benturan kepala (headbutt), penonton
segera tahu bahwa fisik Gonzales akan lekas kewalahan.
High damage ini yang jadi pertimbangan juri dalam
memenangkan Rungvisai, disamping dominasi pukulan kerasnya. Meskipun, faktanya,
compubox mencatat perbedaan persentase masuknya pukulan dimana Gonzalez unggul
amat jauh dibandingkan Rungvisai—sebuah data sahih yang tetap tak menggoyahkan
keputusan juri.
Stamina Gonzalez masih seperti dulu, pun akurasinya.
Kelincahannya masih ada pada tempatnya. Tetapi ukuran adalah masalah utama di
sini: petinju yang naik kelas di atas kapasitas tubuh alaminya selalu mengalami
kesulitan adaptasi. Dilema ini sudah diputuskan Gonzalez karena jika ia tinggal
dalam kelas naturalnya, maka ia tak akan banyak berkembang. Nyaris semua nama
besar di kelas alaminya sudah ia kalahkan. Pilihan satu-satunya adalah naik
kelas, dengan risiko yang kita tahu tak kecil.
Kekalahan ini menodai secara telak catatan rekornya yang
amat termashyur: bertanding di atas 45 kali pertandingan tanpa kalah. Ia
langsung menginginkan rematch, sebuah
keputusan yang lagi-lagi harus ia ambil untuk mengembalikan reputasi.

Comments
Post a Comment